Mutiara di Kampung Halaman
Liburan semester, hal yang paling dinantikan
oleh hampir seluruh siswa. Pasalnya hiruk pikuk tumpukan tugas dan ujian-ujian
tidak akan kami dengar beberapa minggu kedepan. Dan liburan kali ini, aku
memutuskan untuk pergi ke rumah Nenek, daripada di rumah aku hanya menghabiskan
waktu untuk main gadget, kalau bukan untuk “sosmed”-an ya main game. Setidaknya
kalau aku pergi ke rumah Nenek, aku bisa mencari udara segar meskipun aku tahu
aku tidak akan pernah bisa berpisah dengan gadget milikku. Namaku Zuhfa, tapi
keluarga dan teman-teman lebih senang memanggilku Zu. Aku siswa sekolah
menengah pertama. Selain main gadget, aku punya hobi mendaki gunung.
Kedengarannya agak ekstrim gimana gitu, secara kan aku perempuan tapi hobinya naik
gunung.
Ya, mau gimana lagi dong, aku emang suka kalau
lagi ada di alam terbuka. Tapi sayang, kata ayah “ anak gadis itu jauh lebih
baik kalau berada di dalam rumah”. Aku
tahu itu, tapi aku butuh sesuatu yang berbeda dalam hidupku. Kadang, aku sempat
mikir, enak ya jadi anak laki-laki, mau kemana aja boleh, kapan aja boleh,
seperti kakak laki-lakiku, Zahfa. Sedangkan kalau perempuan segala tingkah
lakunya harus punya aturan. Susah juga ya jadi perempuan, harus berdampingan
dengan peraturan. Tapi kata temanku, jadi perempuan itu enak karena bisa punya
surga di kakinya . Kalau dipikir-pikir, benar juga sih. Daripada cuma bisa naik
gunung, lebih baik punya surga dong.
Hari pertama liburan di rumah Nenek, momen
yang tidak akan ku lewatkan begitu saja. Setelah mandi dan berpakaian rapi agenda
pertamaku adalah membuka jendela kamar. Kenapa? Jawabannya karena pemandangan
yang terlihat dari jendela kamar itu luar biasa bagus, indah, sedap dipandang
mata. Lagi pula disini tidak banyak polusi, udaranya masih segar, masih banyak
orang yang peduli dengan lingkungan. Tidak seperti di kota-kota besar.
Dari depan jendela langsung bertatap dengan
gunung yang menjulang tinggi serta pepohonan hijau yang berderet rapi di
sekitarnya, tak ketinggalan pula aroma udara pagi yang segar merasuk hingga
kedalam sanubari. Bayangkan sendiri bagaimana sejuknya udara saat itu. Di
samping rumah ada kebun bunga. Ada bunga mawar warna-warni, kembang sepatu
beraneka ukuran, bonsai dengan berbagai bentuk dan banyak lagi jenis bunga lainnya.
Udah kayak istana bunga gitu. Perpaduan yang super duper juara dan menjadi
alasan kenapa kau betah berlama-lama di depan jendela. Lalu aku mengambil
gadgetku dan memainkannya di dekat jendela.
“Zu...sarapan
dulu nak!” suara yang selalu
ku nantikan setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan suara Nenek tersayang.
“Loh,
pagi-pagi kok sudah tatap muka sama gadget sih, ayo sarapan dulu.”, sambungnya
lagi.
“Iya
Nek. “, aku mengiyakannya dan bergegas untuk sarapan.
Aku cepat-cepat sarapan agar bisa segera keliling
kampung.Sarapan sudah beres, saatnya menuju bagasi untuk mengucapakan salam
pagi pada si Vio. Vio? Iya, Vio itu sepeda kesayanganku, dia selalu menemaniku,
warnanya biru muda, punya keranjang di depan dan pastinya akan menjadi teman
setia seharian ini.
Kukayuh sepeda menyusuri jalanan setapak demi
setapak sambil memandangi pemandangan yang indah, ditemani suara burung-burung
saling bersiul saling bersahutan satu sama lain.Kukayuh sepeda semakin cepat, perjalanan
kali ini tidak semulus perjalanan di awal. Aku harus beradu dengan tanjakan
yang seakan memintaku untuk menguras seluruh tenaga. Tapi itu tidak sia-sia,
pemandangan di ujung tanjakan ini tidak kalah indah dengan pemandangan yang kulihat
sepanjang jalan tadi. Dari ketinggian terlihat hamparan sawah yang menguning
dari atas jalan dan rumah-rumah penduduk yang terlihat bagai miniatur. Tidak hanya
itu, tantangan yang seru berikutnya adalah meluncur dari atas bukit. Wuih,
benar-benar serasa terbang.
Pemandangan terasa berbeda saat berada di
bawah. Kali ini aku melihat anak-anak yang sedang berkumpul dan asik bermain. Aku
berhenti sejenak dan membawa sepedaku menepi ke tepi jalan. Aku berjalan meninggalkannya
menuju tempat anak-anak berkumpul. Kupandangi dengan saksama dari balik pagar.
Gelak tawa terdengar jelas di telinga, rupanya mereka sedang asik memainkan
mainan tradisional yang tidak asing bagiku.
Melihat
mereka bermain dengan riang, membuat aku kembali menerawang, ingatan masa
kecilku kembali. Kalu tidak salah namanya egrang. Sebuah permainan tradisional
yang terbuat dari dua pasang bambu bulat yang panjangnya bervariasi, mulai dari
2 meter hingga 3,5 meter dan diberikan pijakan kaki pada bagian bawahnya. Jarak
antara ujung bambu bawah dengan tempat pijakan, rata–rata hingga 1 meter.
Cara memainkannya
memang sedikit sulit bagi pemula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
berusaha berdiri tegak di atas egrang. Kedua kaki bertumpu pada tempat pijakan
dan kedua tangan berpegangan pada bagian atas bambu. Setelah menemukan titik
keseimbangan dengan baik, barulah kita mulai melangkahkan kaki perlahan dan
berjalan seperti biasa. Sungguh sangat sulit dan menguras tenaga, tapi tetap
menyenangkan.
Ketika sedang asyik mengambil foto mereka sedang bermain,
tiba–tiba aja terdengar suara teriakan.
“Zuuu, Zuuu, Zuhfa!”, suaranya terdengar jelas memanggil namaku.
“Zuuu, Zuuu, Zuhfa!”, suaranya terdengar jelas memanggil namaku.
Aku berbalik sambil memandangi
seorang bocah lelaki seumuran denganku. Dia berjalan mendekatiku disertai
nafasnya yang terengah-engah, dia memandangiku seraya tersenyum.
“Masih ingat aku?”,ujarnya sambil mengernyitkan dahi.
“Mmm..,”aku berpikir beberapa saat, “Maaf siapa?”
Dia kembali tersenyum dan mengatakan, “Aku Adnan.”
“Astaga! Dia Adnan. Dia kan...,kenapa aku bertemu lagi dengannya.”,gerutuku
dalam hati.
Dia sangat
menjengkelkan. Sekarang aku ingat, kenapa permainan yang aku lihat tadi tidak
asing bagiku. Iya, dulu waktu SD ada perlombaan egrang di sekolah. Adnan
bertanding denganku. Aku sebenarnya tidak terlalu bisa memainkannya, tapi
karena tak sanggup menanggung malu karena dikira takut kalah bertanding
dengannya, terpaksa aku ikut saja. Apa daya? Rasa maluku berlipat dua. Belum
mencapai garis finis aku sudah jatuh. Semua orang yang melihat tertawa
terbahak-bahak menjadikanku tontonan, tak terkecuali Adnan. Sedangkan aku hanya
bisa merengek kesakitan sambil memegangi kakiku yang terluka. Sejak saat
itulah, bagiku Adnan adalah anak yang menjengkelkan.
“Biasa aja kali Zu, aku nggak bakalan nantangin kamu main egrang
lagi kok.”, katanya membuyarkan lamunanku.
“Eh, siapa juga yang takut?”, jawabku sok berani.
“Biasa aja kali, ayo ikut
aku!”, ucapnya sambil menarik tanganku.
Dia mengajakku lebih dekat lagi dengan anak-anak yang bermain
egrang itu dan duduk di teras rumah seseorang.
“Itu kelompok egrang milik ayahku.”, suara Adnan mengalihkan perhatianku.
Aku baru tahu, ternyata ayah Adnan
yang mengelolanya. Kata Adnan, dia sangat prihatin
dengan kondisi masyarakat kita saat ini, khususnya anak–anak. Mereka sudah
tidak mengenal kebudayaan lokal yang kita miliki, khususnya permainan
tradisional. Mereka hanya mengenal permainan modern yang diperoleh melalui
gadget atau teknologi canggih lainnya. Sungguh miris melihat keadaan ini.
Padahal permainan tradisional kita tidak kalah menarik dengan permainan modern.
Salah satunya saja egrang ini. Permainan yang ramah lingkungan, tidak
membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Andai saja seluruh masyarakat mau
bersama–sama melestarikan kebudayaan lokal yang kita miliki, sudah pasti Negara
kita akan menjadi tujuan utama para wisatawan asing.
Aku yang duduk disamping dan mendengar omongannya
merasa tersinggung.
“Kamu nyindir
aku ya?”, ucapku spontan sambil menoleh padanya.
“Tidak, memangnya kamu merasa tersindir?”, tanyanya
lagi.
Terpaksa aku mengaku,“Aku kan suka pake gadget, main
egrang aja aku sering jatuh.”
“Berarti kamu udah sadar Zu, coba pikir, apa yang
tidak dimiliki oleh Indonesia? Hanya saja kita yang terlena akan modernisasi
yang semakin menina bobokan kita. Menjadikan kita manja dengan kehidupan
praktis yang serba cepat.”, jelasnya.
Aku tercengang
mendengarkan pembahasan Adnan tentang arti penting kebudayaan. Ternyata dia
sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Dia seakan
mengingatkan aku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan.
Ketika kita merasa memiliki, maka kita akan selalu menjaganya, tidak akan
membiarkannya hilang apalagi dirampas oleh orang lain.
“Kamu bener Nan. Andai saja sedari dulu aku menyadari
hal itu.”,ucapku setengah malu.
“Budaya lokal, cikal bakal lahirnya budaya Nasional
yang akan menjadi ikon atau penanda sebuah Negara. Ketika kebudayaan lokal
tidak lagi terjaga, maka Kebudayaan Nasional akan tergerus, dan jika kebudayaan
Nasional tergerus, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Oleh karena itu,
marilah kita jaga mutiara–mutiara yang tersembunyi itu, dan jadikan dia
bersinar sepanjang masa.”,sambung Adnan.
“Main
egrang yuk, Nan?”,ajakku padanya.
“Apa?
Beneran?Nggak takut jatuh lagi?”, jawabnya kaget setengah menyindir.
“Ya
nggak lah.Udah deh nggak usah banyak nanya?”, ujarku setengah sebal.
“Biasa
aja kali Zu, ayo!”, sambungnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
Hari
itu kuhabiskan untuk bermain egrang bersama Adnan. Sungguh, liburan kali ini
adalah liburan yang sangat berharga bagiku. Aku bertemu Adnan, seseorang yang
seakan menyadarkanku akan pentingnya mencintai budaya lokal. Dia seakan
menyadarkanku, bahwa sebagai anak bangsa yang baik, kita diharuskan untuk menjaga
dan melestarikan kebudayaan lokal agar tidak musnah dan membiarkan
mutiara-mutiara tersembunyi itu tetap bersinar sepanjang masa
makasii kakak udaa memotivasi aku buat bikin cerpen kaya ginii.
BalasHapusThanks
BalasHapusKarya kamu patut diteladani
Baguuuuuus! buat motivasi kita harus mencintai budaya lokal!
BalasHapusMakasih membuat aku suka cerpen ini
BalasHapusMakasih kakak udah buat cerpen yang bagus dan dapat di tiru oleh anak anak yang membaca cerpen ini
BalasHapusIni berapa kata?
BalasHapusKak ini berapa kata ya
BalasHapus1000 an
HapusIni 1000kata to kok kayak lebih dari 1000kata
HapusNama pengarangnya siapa ya?
BalasHapusNama pengarangnya siapa kak?
BalasHapusBagus...terima kasih
BalasHapusAwenn
Cerpen Singkat Bermakna
Cerpen Singkat Bermakna
Aplikasi Penghasil Uang
Cerita Pendek
Aplikasi Penghasil Uang
Mas Baron