Senin, 30 Mei 2016

Cerpen Tentang Budaya Lokal



Mutiara di Kampung Halaman


Liburan semester, hal yang paling dinantikan oleh hampir seluruh siswa. Pasalnya hiruk pikuk tumpukan tugas dan ujian-ujian tidak akan kami dengar beberapa minggu kedepan. Dan liburan kali ini, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Nenek, daripada di rumah aku hanya menghabiskan waktu untuk main gadget, kalau bukan untuk “sosmed”-an ya main game. Setidaknya kalau aku pergi ke rumah Nenek, aku bisa mencari udara segar meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa berpisah dengan gadget milikku. Namaku Zuhfa, tapi keluarga dan teman-teman lebih senang memanggilku Zu. Aku siswa sekolah menengah pertama. Selain main gadget, aku punya hobi mendaki gunung. Kedengarannya agak ekstrim gimana gitu, secara kan aku perempuan tapi hobinya naik gunung.


Ya, mau gimana lagi dong, aku emang suka kalau lagi ada di alam terbuka. Tapi sayang, kata ayah “ anak gadis itu jauh lebih baik kalau berada di dalam rumah”.  Aku tahu itu, tapi aku butuh sesuatu yang berbeda dalam hidupku. Kadang, aku sempat mikir, enak ya jadi anak laki-laki, mau kemana aja boleh, kapan aja boleh, seperti kakak laki-lakiku, Zahfa. Sedangkan kalau perempuan segala tingkah lakunya harus punya aturan. Susah juga ya jadi perempuan, harus berdampingan dengan peraturan. Tapi kata temanku, jadi perempuan itu enak karena bisa punya surga di kakinya . Kalau dipikir-pikir, benar juga sih. Daripada cuma bisa naik gunung, lebih baik punya surga dong.


Hari pertama liburan di rumah Nenek, momen yang tidak akan ku lewatkan begitu saja. Setelah mandi dan berpakaian rapi agenda pertamaku adalah membuka jendela kamar. Kenapa? Jawabannya karena pemandangan yang terlihat dari jendela kamar itu luar biasa bagus, indah, sedap dipandang mata. Lagi pula disini tidak banyak polusi, udaranya masih segar, masih banyak orang yang peduli dengan lingkungan. Tidak seperti di kota-kota besar.


Dari depan jendela langsung bertatap dengan gunung yang menjulang tinggi serta pepohonan hijau yang berderet rapi di sekitarnya, tak ketinggalan pula aroma udara pagi yang segar merasuk hingga kedalam sanubari. Bayangkan sendiri bagaimana sejuknya udara saat itu. Di samping rumah ada kebun bunga. Ada bunga mawar warna-warni, kembang sepatu beraneka ukuran, bonsai dengan berbagai bentuk dan banyak lagi jenis bunga lainnya. Udah kayak istana bunga gitu. Perpaduan yang super duper juara dan menjadi alasan kenapa kau betah berlama-lama di depan jendela. Lalu aku mengambil gadgetku dan memainkannya di dekat jendela.


“Zu...sarapan dulu nak!” suara yang selalu ku nantikan setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan suara Nenek tersayang.
“Loh, pagi-pagi kok sudah tatap muka sama gadget sih, ayo sarapan dulu.”, sambungnya lagi.
“Iya Nek. “, aku mengiyakannya dan bergegas untuk sarapan.


Aku cepat-cepat sarapan agar bisa segera keliling kampung.Sarapan sudah beres, saatnya menuju bagasi untuk mengucapakan salam pagi pada si Vio. Vio? Iya, Vio itu sepeda kesayanganku, dia selalu menemaniku, warnanya biru muda, punya keranjang di depan dan pastinya akan menjadi teman setia seharian ini.


Kukayuh sepeda menyusuri jalanan setapak demi setapak sambil memandangi pemandangan yang indah, ditemani suara burung-burung saling bersiul saling bersahutan satu sama lain.Kukayuh sepeda semakin cepat, perjalanan kali ini tidak semulus perjalanan di awal. Aku harus beradu dengan tanjakan yang seakan memintaku untuk menguras seluruh tenaga. Tapi itu tidak sia-sia, pemandangan di ujung tanjakan ini tidak kalah indah dengan pemandangan yang kulihat sepanjang jalan tadi. Dari ketinggian terlihat hamparan sawah yang menguning dari atas jalan dan rumah-rumah penduduk yang terlihat bagai miniatur. Tidak hanya itu, tantangan yang seru berikutnya adalah meluncur dari atas bukit. Wuih, benar-benar serasa terbang.


Pemandangan terasa berbeda saat berada di bawah. Kali ini aku melihat anak-anak yang sedang berkumpul dan asik bermain. Aku berhenti sejenak dan membawa sepedaku menepi ke tepi jalan. Aku berjalan meninggalkannya menuju tempat anak-anak berkumpul. Kupandangi dengan saksama dari balik pagar. Gelak tawa terdengar jelas di telinga, rupanya mereka sedang asik memainkan mainan tradisional yang tidak asing bagiku.


Melihat mereka bermain dengan riang, membuat aku kembali menerawang, ingatan masa kecilku kembali. Kalu tidak salah namanya egrang. Sebuah permainan tradisional yang terbuat dari dua pasang bambu bulat yang panjangnya bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 3,5 meter dan diberikan pijakan kaki pada bagian bawahnya. Jarak antara ujung bambu bawah dengan tempat pijakan, rata–rata hingga 1 meter.


Cara memainkannya memang sedikit sulit bagi pemula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah berusaha berdiri tegak di atas egrang. Kedua kaki bertumpu pada tempat pijakan dan kedua tangan berpegangan pada bagian atas bambu. Setelah menemukan titik keseimbangan dengan baik, barulah kita mulai melangkahkan kaki perlahan dan berjalan seperti biasa. Sungguh sangat sulit dan menguras tenaga, tapi tetap menyenangkan.

Ketika sedang asyik mengambil foto mereka sedang bermain, tiba–tiba aja terdengar suara teriakan.
“Zuuu, Zuuu, Zuhfa!”, suaranya terdengar jelas memanggil namaku.

Aku berbalik sambil memandangi seorang bocah lelaki seumuran denganku. Dia berjalan mendekatiku disertai nafasnya yang terengah-engah, dia memandangiku seraya tersenyum.

“Masih ingat aku?”,ujarnya sambil mengernyitkan dahi.
“Mmm..,”aku berpikir beberapa saat, “Maaf siapa?”
Dia kembali tersenyum dan mengatakan, “Aku Adnan.”
“Astaga! Dia Adnan. Dia kan...,kenapa aku bertemu lagi dengannya.”,gerutuku dalam hati.

            Dia sangat menjengkelkan. Sekarang aku ingat, kenapa permainan yang aku lihat tadi tidak asing bagiku. Iya, dulu waktu SD ada perlombaan egrang di sekolah. Adnan bertanding denganku. Aku sebenarnya tidak terlalu bisa memainkannya, tapi karena tak sanggup menanggung malu karena dikira takut kalah bertanding dengannya, terpaksa aku ikut saja. Apa daya? Rasa maluku berlipat dua. Belum mencapai garis finis aku sudah jatuh. Semua orang yang melihat tertawa terbahak-bahak menjadikanku tontonan, tak terkecuali Adnan. Sedangkan aku hanya bisa merengek kesakitan sambil memegangi kakiku yang terluka. Sejak saat itulah, bagiku Adnan adalah anak yang menjengkelkan.

“Biasa aja kali Zu, aku nggak bakalan nantangin kamu main egrang lagi kok.”, katanya membuyarkan lamunanku.
“Eh, siapa juga yang takut?”, jawabku sok berani.
 “Biasa aja kali, ayo ikut aku!”, ucapnya sambil menarik tanganku.
Dia mengajakku lebih dekat lagi dengan anak-anak yang bermain egrang itu dan duduk di teras rumah seseorang.
“Itu kelompok egrang milik ayahku.”, suara Adnan mengalihkan perhatianku.

Aku baru tahu, ternyata ayah Adnan yang mengelolanya. Kata Adnan, dia sangat prihatin dengan kondisi masyarakat kita saat ini, khususnya anak–anak. Mereka sudah tidak mengenal kebudayaan lokal yang kita miliki, khususnya permainan tradisional. Mereka hanya mengenal permainan modern yang diperoleh melalui gadget atau teknologi canggih lainnya. Sungguh miris melihat keadaan ini. Padahal permainan tradisional kita tidak kalah menarik dengan permainan modern. Salah satunya saja egrang ini. Permainan yang ramah lingkungan, tidak membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Andai saja seluruh masyarakat mau bersama–sama melestarikan kebudayaan lokal yang kita miliki, sudah pasti Negara kita akan menjadi tujuan utama para wisatawan asing.

Aku yang duduk disamping dan mendengar omongannya merasa tersinggung.
 “Kamu nyindir aku ya?”, ucapku spontan sambil menoleh padanya.
“Tidak, memangnya kamu merasa tersindir?”, tanyanya lagi.
Terpaksa aku mengaku,“Aku kan suka pake gadget, main egrang aja aku sering jatuh.”
“Berarti kamu udah sadar Zu, coba pikir, apa yang tidak dimiliki oleh Indonesia? Hanya saja kita yang terlena akan modernisasi yang semakin menina bobokan kita. Menjadikan kita manja dengan kehidupan praktis yang serba cepat.”, jelasnya.

Aku tercengang mendengarkan pembahasan Adnan tentang arti penting kebudayaan. Ternyata dia sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Dia seakan mengingatkan aku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan. Ketika kita merasa memiliki, maka kita akan selalu menjaganya, tidak akan membiarkannya hilang apalagi dirampas oleh orang lain.

“Kamu bener Nan. Andai saja sedari dulu aku menyadari hal itu.”,ucapku setengah malu.
“Budaya lokal, cikal bakal lahirnya budaya Nasional yang akan menjadi ikon atau penanda sebuah Negara. Ketika kebudayaan lokal tidak lagi terjaga, maka Kebudayaan Nasional akan tergerus, dan jika kebudayaan Nasional tergerus, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Oleh karena itu, marilah kita jaga mutiara–mutiara yang tersembunyi itu, dan jadikan dia bersinar sepanjang masa.”,sambung Adnan.

“Main egrang yuk, Nan?”,ajakku padanya.
“Apa? Beneran?Nggak takut jatuh lagi?”, jawabnya kaget setengah menyindir.
“Ya nggak lah.Udah deh nggak usah banyak nanya?”, ujarku setengah sebal.
“Biasa aja kali Zu, ayo!”, sambungnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Hari itu kuhabiskan untuk bermain egrang bersama Adnan. Sungguh, liburan kali ini adalah liburan yang sangat berharga bagiku. Aku bertemu Adnan, seseorang yang seakan menyadarkanku akan pentingnya mencintai budaya lokal. Dia seakan menyadarkanku, bahwa sebagai anak bangsa yang baik, kita diharuskan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal agar tidak musnah dan membiarkan mutiara-mutiara tersembunyi itu tetap bersinar sepanjang masa

12 komentar: